Suami Istri Tinggal nge-Kost
11 September 2008
Hari ini saya mau ngepak barang-barang. Karena Insya Allah tanggal 16 September nanti saya dan suami akan segera ‘move out’ dari rumah kami sekarang. (Selama lima bulan menikah ini kami sementara tinggal bersama orang tua saya). Gimana ceritanya kami memutuskan untuk nge-Kost?
Kami memutuskan untuk kredit rumah, tepatnya di Jati Mulyo, Karang Anyar, Lampung Selatan. Tempatnya lumayan, dekat pasar, pom bensin, dan kantor pos. Kalau dari arah Way Kandis, terus saja ke Karimun Jawa sampai mentok, trus belok kiri dan bakal ada papan petunjuk. Perumahan Permata Asri namanya. Banyak yang bilang tempatnya terlalu jauh. Namun, ingat Way Halim dulu. Banyak yang ogah untuk tinggal ke sana. Coba lihat sekarang… *Ah, sebetulnya hanya ingin meyakinkan diri sendiri :p*.
Karena KPR, tentunya ada proses lagi. Wong rumahnya saja masih dibangun, listrik belum terpasang, dan airnya mungkin baru ngebor. Kata pengurusnya, memakan sekitar tiga bulan lagi baru bisa ditempati. Namun, saya dan suami sepakat, sepertinya bakal lebih dari itu deh. Jadi untuk sementara, sambil nunggu rumah jadi, kami bakal nge-kost dulu. *Asyik kan
*
Berawal dari Feeling dan Iseng
Alhamdulillah, setelah ke sana kemari, tawaran kontrakan rumah sana sini, saya dan suami nemu kostan yang lumayan sreg di hati. Anak Unila pasti tau gang Kedele. Nah, ada kostan putri di sana. Anak Teknokra juga pasti kenal Linda Meitabel dan Dwi Kuswatuti. Dua-duanya Manajer Keuangan Teknokra beda generasi. Mereka juga kost di sana. Bentuknya seperti komplek. Banyak daun dan rumputnya, asri deh. Di dalam ‘komplek’ itu, terdapat 12 kamar, 6 di antaranya berukuran besar. Namun, dapur dan kamar mandi di apit oleh dua kamar berbeda. Tapi menurut kami itu tak masalah, bisa diatasi dan dibagi. Ketika iseng-iseng nemui pak Kostannya, dan tanya2 bisa tidaknya keluarga kost di sana, dia langsung antusias.
“Oh, ada. Kamu beruntung, tinggal satu lagi. Kamar yang besar, lagi. Kamu pas kalo cari di sini. Tempat ini memang sering ditempati sama keluarga, suami istri pengantin baru.”
Dia bercerita, terakhir ada dokter genekologi dan istrinya. Kostan ini sudah berumur belasan tahun, dan selama itu banyak suami istri tinggal di sana. Tempatnya memang pas, apalagi masih berdua, yan pasti bisa berhemat untuk nabung rumah sesungguhnya.
Kemudian kami diajak untuk melihat kamarnya. Lumayan, kata suami saya. Berhubung saya sudah biasa ke sana, jadi saya sudah tau lebih dulu keadaannya. Pak Kost tanya2, suami kerja di mana, saya dimana, sekarang masih tinggal dimana, dll. Setelah tau saya masih kuliah di Unila, dia nyeletuk, “wah, yang satu nyari duit, yang satu ngeluarin duit,” Ujarnya sambil tertawa.
Pulang ke rumah, saya sampaikan keinginan ini ke mama saya. *kok sedih banget ya saya. :’(* Kata mama, ya, gapap. Yang penting jaga diri. Rasa sedih segera mengelayut. Dulu, ketika awal menikah, saya yakin bahwa saya bisa mandiri, lepas dari orang tua. Sekarang, kok rasanya bakal sedih banget ya pisah. Padahal tinggalnya pun dekat. Teluk dan Rajabasa. Dekat banget menurut saya. Tapi, ini memang tekad kami berdua. Rasa sedih dan kangen pasti bakal ada. Ini komitmen yang harus dipunya ketika awal dulu.
Mom, Dad, Sis, Bro, We’ll miss you so…







1.
bolammedia | 25 December 2008 at 8:49 am
hehe…
belajar jadi “kontraktor rumah” emang enak yach…
biar lebih bisa “mengapresiasikan diri” sebagai pasangan baru